Dampak Program MBG pada Harga Telur & Inflasi Pangan 2025

Dampak Program MBG pada Harga Telur & Inflasi Pangan 2025

BahasBerita.comprogram Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah dalam beberapa bulan terakhir telah mendorong peningkatan permintaan signifikan terhadap telur ayam ras dan daging ayam ras. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) hingga November 2025, lonjakan permintaan ini memicu kenaikan harga komoditas tersebut yang berdampak pada inflasi pangan nasional. Selain faktor permintaan, kenaikan harga produksi seperti day old chick dan jagung pakan turut menambah tekanan biaya, menyebabkan disparitas harga terutama pada telur ayam yang melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp30.000/kg di beberapa wilayah.

Dalam konteks kebijakan pangan nasional, MBG berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, namun memicu tantangan ekonomi berupa inflasi dan ketidakseimbangan pasar. Analisis berikut akan menguraikan dampak ekonominya secara mendalam, mencakup data statistik, faktor penyebab kenaikan harga, implikasi pasar, hingga rekomendasi kebijakan dan peluang investasi sektor peternakan ayam. Artikel ini bertujuan membantu pengambil kebijakan, investor, dan pelaku pasar memahami kompleksitas dinamika harga komoditas pangan strategis ini.

Memahami hubungan antara program mbg dan fluktuasi harga pasar menjadi kunci dalam merumuskan strategi stabilisasi dan pengembangan sektor peternakan agar dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi. Berikut analisis terperinci terkait pengaruh MBG terhadap permintaan, harga telur dan daging ayam ras, hingga proyeksi tren pasar ke depan di tahun 2026.

Analisis Permintaan dan Tren Harga Telur serta Daging Ayam Ras 2025

Kenaikan tajam permintaan telur ayam ras dan daging ayam ras terlihat setelah implementasi program MBG pada triwulan III-2025. Berdasarkan data resmi BPS, konsumsi telur dan daging ayam meningkat masing-masing sebesar 15,8% dan 13,2% secara tahunan (YoY) pada Oktober-November 2025. Lonjakan permintaan didorong oleh distribusi MBG yang menyasar puluhan juta penerima manfaat di berbagai provinsi.

Peningkatan ini berkontribusi langsung pada tekanan harga pasar, dimana inflasi telur ayam tercatat mencapai 12,5% secara YoY, jauh melampaui rata-rata inflasi pangan sebesar 7,8% pada periode yang sama. Harga daging ayam ras juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 10,3% YoY. Data menunjukkan disparitas harga telur di berbagai pulau dan kota besar, dengan harga pasar di beberapa daerah mencapai Rp33.000 – Rp35.000 per kilogram, melebihi Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp30.000/kg.

Peningkatan permintaan ini juga diiringi dengan pergeseran pola distribusi serta meningkatnya aktivitas di tingkat pedagang besar dan pengecer, yang mengakibatkan rantai pasokan menjadi lebih panjang dan biaya distribusi bertambah.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga: Permintaan MBG dan Biaya Produksi

Faktor utama di balik kenaikan harga telur dan daging ayam adalah lonjakan permintaan akibat program MBG yang meningkatkan permintaan agregat di pasar domestik. Situasi ini diperparah oleh kenaikan biaya produksi yang signifikan selama 2025. Harga day old chick sebagai benih unggas naik sekitar 18% pada semester pertama tahun ini, terimbas oleh keterbatasan pasokan global dan permintaan domestik yang tinggi.

Selain itu, harga jagung pakan yang merupakan bahan baku utama pakan ternak juga mengalami kenaikan sebesar 20% YoY pada Oktober 2025, yang secara langsung menekan biaya produksi peternak ayam ras. Kombinasi faktor permintaan yang tinggi dan biaya input yang merangkak naik menyebabkan margin produksi menjadi lebih tipis, memaksa harga jual di pasar turut meningkat.

Peran rantai distribusi sangat menentukan pergerakan harga akhir di tingkat konsumen. Pedagang besar dan pengecer mencatat kenaikan biaya logistik yang berdampak pada harga jual di pasar modern maupun tradisional. Praktik penimbunan stok oleh sebagian pedagang menambah volatilitas harga terutama di daerah terpencil.

Faktor
Persentase Kenaikan (%)
Dampak pada Harga
Keterangan
Day Old Chick
18%
Meningkat
Keterbatasan pasokan dan kenaikan permintaan
Jagung Pakan
20%
Meningkat
Kenaikan permintaan dan dinamika pasar global
Biaya Distribusi
10-12%
Meningkat
Kenaikan biaya logistik dan praktek penimbunan

Implikasi Ekonomi terhadap Konsumen dan Produsen

Inflasi komoditas telur dan daging ayam memberikan dampak berlapis terhadap ekonomi domestik. Dari sisi konsumen, kenaikan harga pangan pokok menyebabkan beban pengeluaran meningkat, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah yang menjadi sasaran program MBG. Hal ini berpotensi menekan daya beli dan konsumsi barang lain, memperlambat pertumbuhan ekonomi sektor terkait.

Bagi peternak ayam, kenaikan harga produksi sekaligus peluang pasar yang lebih besar dapat meningkatkan lapangan usaha dan profitabilitas, meski tantangan kestabilan pasokan menjadi isu krusial. Ketidakseimbangan antara permintaan MBG dan produksi ayam ras dalam negeri memicu tekanan pasokan yang berpotensi menghambat program tersebut.

Baca Juga:  Kimia Farma Rugi Rp 234 Miliar Kuartal III 2025: Analisis Lengkap

Sebagai respons, Kementerian Peternakan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) melakukan inisiatif penambahan pasokan ayam melalui pembangunan peternakan regional serta peningkatan efisiensi rantai pasokan pakan ternak. Strategi ini bertujuan menekan volatilitas harga dan memastikan keberlanjutan program MBG tanpa merugikan pelaku pasar.

Proyeksi Tren Harga dan Rekomendasi Kebijakan 2026

Melihat tren nasional dan dinamika global pada akhir 2025, diprediksi harga telur dan daging ayam ras akan terus mengalami peningkatan moderat di kisaran 5-7% hingga kuartal I 2026, seiring dengan stabilisasi pasokan yang mulai terjadi dari proyek peternakan baru.

Rekomendasi kebijakan meliputi:

  • Penguatan subsidi pakan ternak untuk mengendalikan biaya produksi dan harga jual.
  • Peningkatan kapasitas produksi day old chick lokal untuk mengurangi ketergantungan impor.
  • Pengembangan sistem distribusi modern yang transparan dan efisien guna mengurangi manipulasi harga.
  • Fasilitasi investasi sektor peternakan dan pakan yang berorientasi pasar untuk memperkuat ketahanan pangan.
  • Peluang Investasi dan Risiko Pasar

    Sektor peternakan ayam dan industri pakan menunjukkan prospek investasi yang menarik akibat kenaikan permintaan sebagai dampak program MBG. Dengan return on investment (ROI) diperkirakan mencapai 12-15% per tahun dalam jangka menengah, pelaku usaha dan investor mendapat peluang ekspansi yang menguntungkan.

    Namun, risiko masih muncul dari volatilitas harga bahan baku dan ketidakseimbangan stok, yang perlu mitigasi ketat melalui pengelolaan rantai pasok dan kebijakan stabilisasi pasar pemerintah.

    Parameter
    Perkiraan 2026
    Potensi Risiko
    Strategi Mitigasi
    Harga telur (Rp/kg)
    Rp31.500 – Rp33.000
    Fluktuasi pasokan, biaya pakan naik
    Subsidi pakan, pengembangan produksi lokal
    Harga daging ayam (Rp/kg)
    Rp43.000 – Rp44.500
    Ketidakseimbangan permintaan, distribusi
    Modernisasi rantai pasok, regulasi distribusi
    ROI Investasi Peternakan
    12-15% per tahun
    Volatilitas harga bahan baku
    Kontrak pasokan, diversifikasi produk

    FAQ: Pertanyaan Umum terkait Program MBG dan Dampaknya

    Apa itu program MBG dan bagaimana mekanismenya?
    Program makan bergizi gratis (MBG) adalah inisiatif pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi bagi kelompok sasaran melalui distribusi telur ayam dan daging ayam secara gratis setiap hari. Tujuannya meningkatkan status gizi masyarakat sekaligus mendukung industri peternakan lokal.

    Mengapa MBG memicu kenaikan harga telur dan daging ayam?
    MBG meningkatkan permintaan komoditas secara signifikan tanpa diiringi peningkatan produksi yang cepat, mengakibatkan kelangkaan penawaran dan kenaikan harga. Ditambah kenaikan biaya produksi seperti day old chick dan jagung pakan, harga ujung pasar menjadi terdorong naik.

    Baca Juga:  Pembelian Saham Dirut RS Hermina Rp 29,3 Miliar, Dampak Pasar 2025

    Apa solusi pemerintah menghadapi lonjakan harga ini?
    Pemerintah menerapkan strategi penambahan pasokan melalui peningkatan kapasitas peternakan, subsidi pakan ternak, serta pengawasan distribusi agar harga tetap terkendali sekaligus menjaga keberlangsungan MBG.

    Bagaimana prediksi harga telur dan ayam tahun depan?
    Diperkirakan harga keduanya akan mengalami stabilisasi dengan kenaikan moderat 5-7% mengikuti penyesuaian pasokan dan efisiensi produksi, tetap memerlukan pengawasan ketat agar inflasi tidak melebar.

    Program MBG membuka peluang dan tantangan ekonomi. Kenaikan permintaan meningkatkan tekanan harga, tetapi juga mendorong pengembangan sektor peternakan yang berkelanjutan jika didukung kebijakan tepat. Pemahaman menyeluruh tentang dinamika pasar ini sangat penting untuk pengambilan keputusan investasi dan kebijakan yang efektif.

    Ke depan, penguatan rantai pasok, subsidi strategis, dan pengembangan produksi lokal menjadi kunci utama dalam mengendalikan inflasi pangan sekaligus memastikan program MBG berjalan optimal. Investor dan pelaku pasar disarankan memanfaatkan peluang di sektor peternakan dan pakan ayam dengan analisis risiko yang matang untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. Dukungan kebijakan yang adaptif dan terukur akan menciptakan ekosistem pangan yang stabil dan berkelanjutan.

    Tentang Raden Aditya Pratama

    Raden Aditya Pratama adalah editorial writer berpengalaman dengan fokus pada sektor renewable energy di Indonesia. Ia meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia pada 2012 dan terus mengembangkan keahliannya dalam menulis dan analisis energi terbarukan. Selama lebih dari 10 tahun berkarir, Raden telah bekerja di beberapa media nasional terkemuka, menulis artikel mendalam tentang teknologi solar, biomassa, dan kebijakan energi hijau. Ia juga dikenal melalui sejumlah publikasi

    Periksa Juga

    Dampak Migrasi 381 Ribu Orang Jawa ke Bali 2025

    Dampak Migrasi 381 Ribu Orang Jawa ke Bali 2025

    Analisis ekonomi perpindahan 381 ribu orang Jawa ke Bali 2025. Dampak sektor transportasi, pariwisata, tenaga kerja dan peluang investasi terbaru.